Sabtu, 08 Maret 2014

PAK (Penyakit Akibat Kerja) di Laboratorium Parasitologi



BAB I

Pendahuluan



Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat merupakan ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka. Laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana percobaan eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud : 1995, 2003).
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim, 2007).
Laboratorium kesehatan adalah sarana kesehatan yang melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan bukan berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan atau faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan kesehatan masyarakat. Laboratorium kesehatan merupakan sarana penunjang upaya pelayanan kesahatan, khususnya bagi kepentingan preventif dan curative, bahkan promotif dan rehabilitative.
Banyak di laboratorium rumah sakit maupun klinik, dan dari sampel darah akan banyak dilakukan pemeriksaan salah satunya pemeriksaan adanya parasit dalam darah pasien. Di laboratorium rumah sakit pemeriksaan parasit dalam darah diperlukan ruangan khusus agar mudah dalam menjalankan aktifitas pemeriksaan. Dalam laboratorium parasitologi rumah sakit yang didirikan atau dirancang harus sesuai dengan standart yang berlaku.




BAB II
Pembahasan


A.    Pengertian Laboratorium Parasit

Parasitologi adalah adalah suatu ilmu cabang biologi yang mempelajari tentang semua organisme parasit. Tetapi dengan adanya kemajuan ilmu, parasitologi kini terbatas mempelajari organisme parasit yang tergolong hewan parasit, meliputi: protozoa, helminthes, arthropoda dan insekta parasit, baik yang zoonosis ataupun anthroponosis. Laboratorium parasitologi adalah salah satu sarana yang digunakan untuk penelitian dan pemeriksaan berbagai jenis parasit. Berbagai jenis parasit dari jenis amoeba, protozoa, jamur dan lainnya bisa diperiksa di laboratorium parasitologi dengan bantuan mokroskop. Sedangkan jenis cacing dan serangga bisa diamati secara makroskopis.
Pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk berbagai tujuan :
1.      Skrining / uji saring adanya penyakit subklinis.
2.      Konfirmasi pasti diagnosis.
3.      Menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala   klinis.
4.      Membantu pemantauan pengobatan.
5.      Menyediakan informasi prognostic /perjalanan penyakit.
6.      Memantau perkembangan penyakit.
7.      Mengetahui ada tidaknya kelainan/penyakit yang banyak dijumpai dan  potensial membahayakan.
8.      Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit.

Hasil pemeriksaan laboratorium ditentukan oleh beberapa factor, antara lain :
1.      Faktor Pra instrumentasi : sebelum dilakukan pemeriksaan.
2.      Faktor Instrumentasi : saat pemeriksaan sample.
3.      Faktor Pasca instrumentasi : saat penulisan hasil pemeriksaan.
Di antara ketiga faktor tersebut, faktor pra instrumentasi merupakan tahap yang sangat penting yang memerlukan kerjasama antara petugas , pasien dan dokter. Hal ini karena tanpa kerjasama yang baik akan mengganggu /mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
Yang termasuk dalam tahapan pra instrumentasi meliputi :
1.      Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium.
2.      Persiapan penderita Persiapan alat yang akan dipakai
3.      Cara pengambilan sample Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) dan transportasi.
B.     Fungsi Laboratorium Parasitologi

1.  Melakukan identifikasi parasit yang terkandung dalam suatu sampel
2.  Melakukan penelitian yang berhubungan dengan parasit
3.  Menegakkan diagnosa dokter
4.  Melakukan pengamatan jenis-jenis parasit baik secara makroskopis maupun  mikroskopis

C.     Fasilitas di Laboratorium Parasitologi

1.      Ruangan laboratorium yang memadai
Ruangan laboratorium yang ideal yakni memiliki luas yang cukup,keadaan yang bersih dan rapi,serta di lengkapi dengan jendela dan ventilasi yang cukup sehingga udara dan sinar matahari bisa cukup memasuki ruangan sehingga tidak menimbulkan ruangn laboratorium yang pengap dan gelap.
Syarat ruangan laboratorium :
a.       Seluruh ruangan laboratorium harus mudah dibersihkan
b.      Penerangan di laboratorium harus cukup
c.       Permukaan meja kerja harus tidak tembus air, juga tahan asam, alkali, larutan organik dan panas yang sedang
d.      Tersedianya bak cuci tangan dengan air mengalir dalam setiap ruangan laboratorium
e.       Denah ruang laboratorium yang lengkap (termasuk letak telepon, alat pemadam kebakaran, pintu keluar darurat) digantungkan di beberapa tempat yang mudah terlihat.
f.       Tempat sampah dilengkapi kantong plastic
g.      Tersedia ruang ganti, pakaian, ruang makan/minum dan kamar kecil
h.      Ventilasi laboratorium harus cukup
i.        Udara dalam laboratorium dibuat mengalir searah
j.        Tersedianya  aliran listrik dan generator dengan kapasitas memadai

2.      Peralatan (sarana dan prasarana) yang lengkap
Peralatan yang canggih dan modern sangat diperlukan untuk melengkapi laboratorium parasitologi. Mikroskop listrik binokuler misalnya salah satu sarana yang sangat mendukung dalam pemeriksaan dan penelitian yang dilakukan di laboratorium parasitologi. Hendaknya kalibrasi alat juga dilakukan secara berkala.
Peralatan yang terdapat di laboratorium parasitologi:
a.       Meja praktikum
b.      Mikroskop
c.       Staining chamber
d.      Preparat laboratorium jadi/awetan
e.       Peralatan pengecatan, dsb

Cara memperlakukan alat di laboratorium parasitologi :
a.       Membawa alat sesuai petunjuk penggunaan
b.      Menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan.
c.       Menjaga kebersihan alat
d.      Menyimpan alat sesuai petunjuk

Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat dan bahan di laboratorium:
·         Aman
Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah dibawa dan mahal harganya seperti mikroskop perlu disimpan pada lemari terkunci. Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan sehingga fungsinya berkurang.
·         Mudah dicari
Untuk memudahkan mencari letak masing – masing alat dan bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau laci).
·         Mudah diambil
Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak dan laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia.

3.      Tersedia berbagai contoh preparat yang sudah jadi
Berbagai contoh preparat dari beberapa jenis parasit seperti telur  cacing,larva cacing, protozoa,amoeba, dan lainnya bisa dijadikan kelengkapan laboratorium parasitologi. Preparat-preparat yang sudah jadi bisa dijadikan gambaran sebelum menemukan berbagai parasit yang bisa ditemukan dalam sampel.

4.      Tenaga ahli yang terampil dan berkompeten
Tenaga ahli sangat diperlukan dalam mengerkan berbagai pemeriksaan dan penelitian yang dilakukan di laboratorium parasitologi. Tenaga ahli yang terampil dan berkompeten merupakan hal yang sangat penting karena bila dalam suatu laborarorium yang sudah dilengkapi sarana dan prasarana yang canggih dan modern namun tidak memiliki tenaga ahli justru akan merugikan laboratorium tersebut.

5.      Sanitasi laboratorium yang terjaga
Kebersihan laboratorium harus menjadi hal tersendiri diperhatikan. Pembersihan tempat kerja dilakukan dengan desinfektan agar tidak menimbulkan bau yang tidak enak di dalam laboratorium. Disediakan tempat pembuangan limbah yang sesuai sangat diperlukan sehingga kebersihan ruangan laboratorium selalu terjaga.




D.    Prosedur Pemeriksaan yang Dilakukan  pada Laboratorium Parasitologi
1.      Prosedur  Pemeriksaan Malaria
a.      Alat dan Bahan :
Alat :
1.      Mikroskop
2.      Pipet tetes
3.      Objek glass
4.      Deg glass
5.      Batang lidi
6.      Blood lancet
7.      Auto click
8.      Kapas beralkohol 70%
9.      Kertas saring
10.  Beaker glass
Bahan :
1.      Darah
2.      Oil imersion
3.      Alcohol 70%
4.      Methanol
5.      Cat giemsa

b.      Cara pemeriksaan mikroskopis malaria / Apus darah
                  Pemeriksaan Apusan Darah Tebal
                  Tujuan : Preparat darah tebal digunakan untuk melihat apakah type/jenis malarianya
a.       Cara Kerja :
1.      Bersihkan ujung jari dengan kapas alcohol 70%, biarkan kering
2.      Tusuk jari dengan blood lanckep, darah pertama dihapus dengan tisu
3.      Kemudian ambil tetes darah dengan cra memutar objek gelas pada jari
4.      Biarkan hingga kering
5.      Setelah preparat kering, teteskan giemsa hingga  menutupi semua darah, biarkan 15menit
6.      Bilas dengan air mengalir
7.      Letakan sediaan dalam sikat vertical dan biarkan mengering
8.      Baca preparat dengan mikroskop rendam minyak

Hasil:
(+) jika ditemukan fase aseksual plasmodium
(-) jika tidak ditemukan fase aseksual plasmodium

                  Pemeriksaan darah tipis 
                  Tujuan : digunakan untuk menentukan apakah itu malaria atau tidak
                  Cara kerja:
1.      Bersihkan ujung jari dengan kapas alcohol 70%, biarkan kering
2.      Tusuk jari dengan blood lanckep, darah pertama dihapus dengan tisu
3.      Teteskan darah pada objek gelas
4.      Dengan objek gelas lain, darahtadi dihapus kearah kiri
5.      Biarkan sediaan kering sendiri
6.      Fiksasi dengan methanol, biarkan kering sendiri
7.      Setelah kering tandai dengan giemsa
8.      Biarkan 15menit
9.      Cuci dengan sulingan
10.  Amati dengan mikroskop (100x)minyak emersi

Hasil:
(+) jika ditemukan fase aseksual plasmodium
(-) jika tidak ditemukan fase aseksual plasmodium

c.  Kesalahan kerja pemeriksaan malaria dan filaria :
1.      Petugas tidak menggunakan APD yang dapat meyebabkan kecelakaan kerja
2.      Tertusuk jarum / lansett yang telah digunakan
3.      Pada saat pengambilan sampel filarial di daerah endemik, tergigit oleh nyamuk yang memiliki stadium III dan siap infeksi maka dari itu sebaiknya gunakan lotion anti nyamuk guna pencegahan.




            2.   Prosedur pemeriksaan filariasis :
                  a. Alat dan Bahan :
                        Alat :
1.      Mikroskop
2.      Pipet tetes
3.      Objek glass
4.      Deg glass
5.      Batang lidi
6.      Blood lancet
7.      Auto click
8.      Kapas beralkohol 70%
9.      Kertas saring
10.  Beaker glass
Bahan :
1.      Darah
2.      Oil imersion
3.      Alcohol 70%
4.      Methanol
5.      Cat giemsa

                  b.  Cara Kerja:
1.      Siapkan alat dan bahan yang akan di gunakan
2.      Lalu bersihkan objek glass yang akan digunakan dengan kapas alcohol
3.      Bersihkan ujung jari pasien dengan alcohol swab dan tunggu kering
4.      Setelah kering tusuk jari tadi dengan lancet
5.      Lalu ambil 3 tetes darah dan teteskan di objek glass dengan posisi berbeda ( 2 tetes di kanan dan 1 tetes di sisi kiri objek glass)
6.      Lalu hapus darah dengan ujung objek glass yang lain ke arah berlawanan hingga nanti jadi 3 garis darah
7.      Lalu darah tadi di kering udarakan
8.      Setelah kering, dilisiskan dengan air mengalir.
9.      Setelah itu di kering udarakan
10.  Setelah kering di fiksasi dengan methanol
11.  Tunggu hingga kering
12.  Lalu diwarnai dengan giemsa dengan perbandingan giemsa 1:14 selama 20 menit
13.  Setelah 20 menit dibilas dengan air mengalir dan tunggu hingga kering
14.  Lalu amati di bawah mikroskop pada lensa 10x untuk  mengamati terinfeksi atau tidak dan lensa 40x untuk melihat morfologi dari microfilaria.

            c. Kesalahan kerja pemeriksaan malaria dan filaria :
4.      Petugas tidak menggunakan APD yang dapat meyebabkan kecelakaan kerja
5.      Tertusuk jarum / lansett yang telah digunakan
6.      Pada saat pengambilan sampel filarial di daerah endemik, tergigit oleh nyamuk yang memiliki stadium III dan siap infeksi maka dari itu sebaiknya gunakan lotion anti nyamuk guna pencegahan.

3.    Prosedur pemeriksaan telur cacing
       a.   Alat dan Bahan
       Peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan praktikum ini adalah:
1.      mikroskop
2.      obyek glass
3.      deck glass
4.      aplikator/lidi
5.      pipet tetes
6.      buku kerja
7.      pensil warna.
8.      Wadah sampel, wadah harus : bermulut besar/ lebar, tertutup, kedap air, dan bersih.
         Bahan :
1.       Sampel feces 
2.      NaCl 0,9% (reagen A)
3.      Eosin 1 % (reagen B)

b.      Cara Kerja
1.       Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum. Bersihkan Objek glass dan biarkan kering
2.      Teteskan NaCl 0,9% atau Eosin 1% ke objeck glass 1 tetes (pilih salah satu reagen)
3.      Ambil sampel feces menggunakan lidi, campur pada reagen yang telah diteteskan tadi dan campurkan hingga rata.
4.       Setelah tercampur, tutup preparat tadi dengan deck glass jangan sampai terjadi gelembung udara.
5.      Sediaan preparat dipasang pada mikroskup dengan perbesaran lemah ( 5 x atau 10 x)
6.      Dilakukan pengamatan pada seluruh lapangan pandang pada sediaan.
7.       Hasil pengamatan morfologi umum digambar pada buku kerja.
8.       Bila belum jelas lensa obyektif diubah pada perbesaran sedang (40 x )
                                                                                                                                
c.       Kecelakaan kerja yang dapat terjadi pada pemeriksaan telur cacing yaitu:
1.      Tidak memakai handscoon yang memungkinkan menempelnya elur cacing ditangan sehingga memungkinkannya tertelannya telur cacing yang dapat menyebabkan petugas terinfeksi parasit tersebut.
2.      Tidak memakai masker pada pemeriksaan telur cacing akan memperbesar resiko terinfeksi infeksi. Hal ini biasanya terjadi pada species enterobius vermicularis  yang penularannya dapat melalui udara yang nantinya telur akan masuk kemulut saat di udara.
3.      Tidak menggunakan jas laboratorium saat melakukan pemeriksaan, yang mengakibatkan baju petugasnya terkena feces yang mengandung telur cacing sehingga beresiko tertelan oleh petugas.
4.      Ketidak hati-hatian petugas membawa sampel feces yang bisa berakibat tertumpahnya feces dan terkena anggota tubuh, hal ini berpotensi infeksi pada petugas.
5.      Proses pencucian alat bekas pemeriksaan yang tidak bersih dapat berpotensi menyebabkan penyebaran penyakit. Karena dikhawatirkan telur cacing masih hidup di bekas alat itu. Lalu ada baiknya alat tersebut setelah dicuci, dilakukan proses sterilisasi untuk memastikan bahwa alat benar-benar steril dan bebas telur cacing. karena dikhawatirkan alat yang masih terdapat telur cacing tadi terpegang oleh petugas yang tidak menggunakan handscoon.
6.      Daerah atau meja bekas melakukan pengolahan sampel juga bisa berpotensi menginfeksi maka ada baiknya daerah  itu disterilkan juga dengan Alkohol.

            Untuk pencegahan agar tidak terjadi hal yang tidak diingnkan, maka dalam melakukan pemeriksaan sampel harus diutamakan penggunaan APD (Alat Pelindung  Diri), seperti: masker, sarung tangan, baju lab., dan lain-lain. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan, di larang membuang sampah infeksius sembarangan, dan sebagainya. Jika petugas laboratorium tidak menaati atauran tersebut atau kecerobohan yang dilakukan oleh petugas, maka petugas sendiri akan terinfeksi.


















Daftar Web





Senin, 06 Januari 2014

KEPEMIMPINAN ABAD 21

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kepemimpinan Abad 21 ini beranjak dari pandangan bahwapemimpin publik harus mengenali secara tepat dan utuh baik mengenai dirinya mau pun mengenai kondisi dan aspirasi masyarakat atau orang-orang yang dipimpinnya, perkembangan dan permasalahan lingkungan strategis yang dihadapi dalam berbagai bidang kehidupan, serta paradigma dan sistem organisasi dan manajemen di mana ia berperan. Tanggung jawab pemimpin adalah memberikan jawaban secara arif, efektif, dan produktif atas berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi zamannya, yang dilakukan bersama dengan orang-orang yang dipimpinnya. Untuk itu setiap pemimpin perlu memenuhi kompetensi dan kualifikasi tertentu.
Apabila konfigurasi kepemimpinan terbangun dari tiga unsur, yaitu pemimpin, kondisi masyarakat termasuk orang-orang yang dipimpin, dan perkembangan lingkungan nasional dan internasional senantiasa mengalami perubahan, maka adalah valid jika kita mempertanyakan persyaratan yang diperlukan bagi pemimpin yang efektif dalam menghadapi kompleksitas perkembangan dan dinamika perubahan abad 21. Dalam hubungan itu kita pun perlu mempertanyakan paradigma dan sistem organisasi dan manajemen relevan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi, baik internal mau pun eksternal yang terjadi dalam proses kepemimpinan dan perubahan tersebut. Seorang pemimpin publik harus dapat melihat kehadiran dirinya dalam konteks yang luas dan dasar nilai yang dianut serta merupakan acuan hidup dan kehidupann masyarakat bangsanya.
                                                                                                                               

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Model Kepemimpinan Abad 21
Ronald Heifetz dan Laurie (1998) berpendapat, kepemimpinan masa depan adalah seorang pemimpin yang adaptif terhadap tantangan, peraturan yang menekan, memperhatikan pemeliharaan disiplin, memberikan kembali kepada para karyawan, dan menjaga kepemimpinannya. Ditambahkan, kepemimpinan harus selalu menyiapkan berbagai bentuk solusi dalam pemecahan masalah tantangan masa depan. Dalam kaitannya dengan adaptasi terhadap perubahan, ditekankan pada pemanfaatan sumber daya manusia. Untuk itu, perlu dikembangkan peraturan-peraturan baru, hubungan dan kerjasama yan baru, nilai-nilai baru, perilaku baru, dan pendekatan yang baru terhadap pekerjaan. Demikian pula halnya beberapa gaya, tipologi, atau pun model dan teori kepemimpinan yang telah berkembang pada dekade-dekade akhir Abad 20 yang relevan dalam menghadapi tantangan dan permasalahan Abad 21, dapat kita pertimbangkan dalam mengembangkan Kepemimpinan Abad 21, termasuk kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksi-onal sebagai alternatif model kepemimpinan Abad ke-21.
1.       Kepemimpinan Transformasional
Menunjuk pada proses membangun komitmen terhadap sasaran organisasi dan memberi kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut. Teori transformasional mempelajari juga bagaimana para pemimpin mengubah budaya dan struktur organisasi agar lebih konsisten dengan strategi-strategi manajemen untuk mencapai sasaran organisasional. Dengan cara demikian, antar pimpinan dan bawahan terjadi kesamaan persepsi sehingga mereka dapat mengoptimalkan usaha ke arah tujuan yang ingin dicapai organisasi. Melalui cara ini, diharapkan akan tumbuh kepercayaan, kebanggaan, komitmen, rasa hormat, dan loyal kepada atasan sehingga mereka mampu mengoptimalkan usaha dan kinerja mereka lebih baik dari biasanya.
2.       Kepemimpinan Transaksaksional
Pengertian kepemimpinan transaksional merupakan salah satu gayakepemimpinan yang intinya menekankan transaksi di antara pemimpin dan bawahan. Kepemimpinan transaksional memungkinkan pemimpin memotivasi dan mempengaruhi bawahan dengan cara mempertukarkan reward dengan kinerja tertentu. Artinya, dalam sebuah transaksi bawahan dijanjikan untuk diberi reward bila bawahan mampu menyelesaikan tugasnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Menurut Bass (1985), sejumlah langkah dalam proses transaksional yakni; pemimpin transaksional memperkenalkan apa yang diinginkan bawahan dari pekerjaannya dan mencoba memikirkan apa yang akan bawahan peroleh jika hasil kerjanya sesuai dengan transaksi. Pemimpin menjanjikan imbalan bagi usaha yang dicapai, dan pemimpin tanggap terhadap minat pribadi bawahan bila ia merasa puas dengan kinerjanya.

Berdasarkan uraian di atas, perbedaan utama antara kepemimpinan transformasional dan transaksional dapat diidentifikasi yakni, bahwa inti teori kepemimpinan transaksional terutama menjelaskan hubungan antara atasan dan bawahan berupa proses transaksi dan pertukaran (exchanges process) yang bersifat ekonomis, sementara teori kepemimpinan transformasional pada hakikatnya menjelaskan proses hubungan antara atasan dan bawahan yang di dasari nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan asumsi-asumsi mengenai visi dan misi organisasi.

Pemimpin di abad 21 ini di samping mempunyai power juga faktor manajerial. Pemimpin itu harus memiliki dan mengkondisikan dirinya pada situasi, artinya pemimpin itu harus mempunyai gaya kepemimpinan yang situasional. Disamping nilai atau gaya kepemimpinan di atas, pemimpin abad 21 juga harus memiliki jiwa :
·         Enterprener
Pemimpin abad 21 harus kompeten, individualistis, egosentris, dominan, percaya pada diri sendiri, inovatif, punya kemampuan keras, memiliki dorongan untuk mencapai sesuatu yang luar biasa. Jiwa Enterprener ini baik sekali untuk pemimpin saat sekarang. Disamping mempunyai dedikasi yang tinggi, juga tidak mementingkan pada kepentingan sendiri.
·         Corporatif
Seorang pemimpin selalu dianggap sebagai tindakan tim, ia sangat dominan, tetapi tidak suka mendominasi. Sangat direktif namun masih memberikan kebebasan pada bawahannya, konsultatif, tetapi kurang partisipatif.
·         Developer
Seorang pemimpin harus juga seorang pembangun yaitu orang yang menganggap orang lain sebagai sumber kekuatan utama. Itu sebabnya ia sangat percaya kepada bawahannya. Selalu membantu mengaktualisasikan potensi yang dimiliki bawahan. Memiliki ketrampilan dalam membina hubungan yang hebat. Dengan itu ia mampu memenagkan loyalitas dari masyarakat dan menciptakan iklim yang memberi dukungan penuh atas kepemimpinannya.
·         Integrator
Seorang integrator ialah seorang yang selalu ingin membangun konsensus dan komitmen. Memiliki kemampuan dalam melakukan hubungan dan bantuan, serta sangat partisipatif, ia juga seorang pelopor pembentukan tim yang kokoh, seorang yang penuh motivasi, terampil dalam menyatukan masukan yang bervariasi. Pendeknya ia adalah pemimpin yang brillian dan lebih menyukai pengambilan keputusan kelompok.

B.      Pedoman Pemimpin Abad 21
Pedoman-pedoman dimaksud adalah sebagai antisipasi terhadap berbagai hal yang mungkin dihadapi pada abad ke-21, antara lain :
1.       Kembangkan sebuah visi yang jelas dan menarik
2.       Kembangkan sebuah strategi untuk mencapai visi tersebut
3.       Artikulasikan dan promosikan visi tersebut
4.       Bertindak dengan rasa percaya diri dan optimis
5.       Ekspresikan rasa percaya kepada para pengikut
6.       Gunakan keberhasilan sebelumnya dalam tahap-tahap kecil untuk membangun rasa percaya diri
7.       Rayakan keberhasilan
8.       Gunakan tindakan-tindakan yang dramatis dan simbolis untuk menekankan nilai-nilai utama
9.       Memimpin melalui contoh
10.   Menciptakan, memodifikasi atau menghapuskan bentuk-bentuk cultural
11.   Gunakan upacara-upacara transisi untuk membantu orang melewati perubahan

C.      Faktor Penopang Manajemen Abad 21
Menurut Chowdury (2000) manajemen pada Abad 21 akan tergantung pada 3 faktor yang menopangnya, yakni kepemimpinan, proses, dan organisasi. Asset yang paling berharga bagi pemimpin Abad 21 adalah kemampuan untuk membangun impian seperti dilakukan para entrepreneurs.
1.       Faktor pertama, Pemimpin Abad 21 adalah pemimpin yang berhasil dalam mengejar dan mengerjakan impian-impiannya menggunakan komunikasi, dan memberikan inspirasi kepada setiap orang dalam organisasi untuk juga meyakini impiannya. Sebab itu, kompetensi sang pemimpin ditandai dengan sikappeoplistic bukan individualistic. Komitment emosional sangat berharga bagi manajemen. Untuk mendapatkan komitmen terhadap suatu strategi baru, dapat ditempuh dengan melibatkan orang-orang dalam penyusunan startegi tersebut, dan dengan mengurangi jangka waktu antara konsptualisasi strategi dan pelaksanaannya. Sebab, tantangan organisasional sesungguhnya pada Abad 21 bukanlah jarak geograpikal, melainkan diversitas kultural.
2.       Faktor kedua, Proses Abad 21 fokus pada kegiatan inti, meliputi 4 area kritis berupa Grass root educationdimaksudkan pendidikan dan pelatihan yang melibatkan seluruh staff tanpa diskriminasi, dari pimpinan sampai staff biasa. Fire prevention dimaksudkan sebagau wawasan dan upaya untuk meningkatkan durasi kemanfaatan teknologi dalam produksi dan distribusi produk-produk tertentu. Direct interaction, organisasi Abad 21 menekankan lebih pada entusisme pelanggan di samping kepuasannya. Effecrive globalizationmaksudnya globalisasi selalu mengandung resiko yang berbeda antara negara yang satu dengan yang lainnya. Permasalahannya adalah berapa cepat respons dalam menghadapi perubahan dramatik yang terjadi.
3.       Faktor ketiga, Organisasi Abd 21 yang komit terhadap kualitas sumber daya manusia.


BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pada abad 21 manajer dituntut untuk memiliki wawasan terhadap pasar asing dan kemampuan memahami dan memanfaatkan teknologi informasi sehingga mampu bersaing dalam lingkungan global. Abad 21 juga mengisyaratkan diperlukannya global leadership dan mind set tertentu. Seiring dengan dinamika perkembangan global, berkembang pula pemikiran dan pandangan mengenai kepemimpinan global (global leadership), yang akan banyak menghadapi tantangan dan memerlukan berbagai persyaratan untuk suksesnya., seperti dalam membangun visi bersama dalam konteks lintas budaya dalam kemajemukan hidup dan kehidupan bangsa-bangsa. Dalam menghadapi tantangan abad ke 21 ini, bagaimana yang sebaiknya agar membangun dan melaksanakan pemikiran kebiasaan yang produktif menjadi konsepsi atau paradigma baru dalam persfektif manajemen.